Silaturahmi dan Pertemuan Forum MWA: Gagas Penguatan Otonomi PTNBH untuk Hadapi Tantangan Era Digital








Pertemuan Forum MWA PTNBH berlangsung selama dua hari di Aceh pada tanggal 3-4 Oktober 2024. Bertindak sebagai tuan rumah adalah Universitas Syiah Kuala yang mengundang 21 MWA PTNBH se-Indonesia. Kegiatan ini diwarnai dengan diskusi mengenai pentingnya otonomi PTNBH dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital, perubahan global yang cepat serta amanah dalam pengembangan sumber daya manusia bangsa. Acara ini dihadiri oleh pimpinan MWA PTNBH, perwakilan universitas, serta sejumlah pakar pendidikan dan ekonomi.
MWA Unhas yang merupakan dalah satu inisiator awal pembentukan Forum MWA PTNBH ini turut hadir dalam kegiatan ini dan diwakili oleh para pimpinan MWA yang terdiri dari Ketua dan para Wakil Ketua MWA, Sekretaris Eksekutif, dan Ketua Komite Audit.
Ketua Forum MWA PTNBH, Prof. Mohammad Nuh, dalam pidato pembukaannya, menekankan bahwa PTNBH memiliki peran strategis dalam memajukan pendidikan tinggi Indonesia. Ia menyatakan, “PTNBH harus berperan tidak hanya dalam memajukan institusi mereka, tetapi juga dalam membentuk moral dan etika bangsa.” Prof. Nuh menambahkan bahwa otonomi yang diberikan kepada PTNBH memungkinkan universitas untuk lebih responsif terhadap perubahan dan tuntutan global, termasuk dalam hal inovasi dan peningkatan kualitas tridarma perguruan tinggi.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah tantangan pendidikan di era digital, khususnya bagi generasi Y, Z, dan Alpha. Prof. Nuh menyoroti pentingnya pengembangan sistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan digital native, generasi yang lahir dan besar dalam era teknologi. “Hukum dasar di era digital adalah kecepatan, jaringan, dan efisiensi,” ujar Prof. Nuh. Ia juga menegaskan pentingnya memperluas jejaring dan meningkatkan efisiensi untuk menjaga relevansi dan daya saing PTNBH di masa depan.
Isu-isu geopolitik dan teknologi juga menjadi sorotan dalam diskusi oleh Gita Irawan Wirjawan. Dalam presentasinya, ia menyoroti fenomena pertumbuhan populasi, perkembangan teknologi, dan dinamika tatanan dunia yang semakin kompleks. Gita yang juga merupakan anggota MWA Unhas pada periode pertama tahun 2016-2019 ini, menekankan pentingnya universitas untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan cepat yang didorong oleh teknologi dan dinamika global. Ia juga menyinggung tentang ketimpangan ekonomi, resiliensi mental, serta tantangan keberlanjutan lingkungan yang perlu dihadapi generasi mendatang.
Prof. Hermawan Kresno Dipojono, salah satu pembicara dalam forum ini, membahas strategi untuk mencapai predikat World Class University (WCU). Ia menyebutkan bahwa riset berkualitas merupakan kunci utama untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi. Prof. Hermawan menekankan pentingnya kolaborasi internasional dan nasional dalam riset, serta meningkatkan sitasi ilmiah melalui kerjasama dengan profesor ternama di bidang masing-masing.
Selain itu, diskusi juga mencakup isu terkait kerjasama pemerintah dengan badan usaha untuk mendanai infrastruktur pendidikan. Hal ini dianggap penting mengingat keterbatasan anggaran negara, di mana pola kerjasama publik-swasta (KPBU) menjadi salah satu solusi dalam pembangunan infrastruktur pendidikan tinggi.
Secara keseluruhan, forum ini menjadi momen penting untuk menguatkan komitmen PTNBH dalam menjaga otonomi dan terus berinovasi di tengah tantangan global dan perkembangan teknologi yang pesat.